Jumat, 30 Januari 2015

MAAF TERIMAKASIH





Cerita pendek Maaf Terimakasih 
Tiba-tiba saja Pak Ahmad dikejutkan dengan berita yang kurang mengenakan di hati. Bibinya di kampung memberitahukan perlu uang segera, untuk biaya perbaikan dapur rumahnya yang ambruk karena hujan angin yang melanda kemarin sore.
“Mad, ini bi icah, kemarin sore dapur rumah bibi ambruk, kena hujan angin, barangkali bisa bantu, bibi pinjem dulu barang satu juta sih!”. Suara gugup bibinya terdengar dibalik telepon genggamnya.
“Oh gitu, bagaimana dengan bibi serta paman apa tidak apa-apa?”.
“Alhamdulillah Mad semuanya tidak apa-apa, hanya saja dapurnya ambruk, kalau Akhmad bisa bantu bibi, sejuta aja Mad, buat perbaikan dapur”.
“Iii- Iya bi, nanti Ahmad usahakan, bibi sabar dulu yah!”. Jawab Pak Ahmad , sambil memutar otak, kemana dia harus mencari pinjaman yang mendadak dan amat segera itu.
Ketika itu teringat oleh Pak Ahmad akan koperasi di desanya, yang mana dia sendiri menjadi anggotanya. Koperasi simpan pinjam itu diketuai oleh Pak Juhe. Dan siang itu Pak Akhmad langsung bergegas mencari Pak Juhe untuk meminjam uang dari koperasi.
Setibanya di rumah Pak Juhe, nampaknya yang dicari Pak Akhmad kebetulan masih ada di rumahnya. Kemudian setelahnya mengucapkan salam, Pak Akhmad mengemukakan maksud kedatangannya.
“Pak Juhe, maaf mengganggu, saya ada keperluan sebentar”.
“Eh Pak Akhmad, mari silakan masuk”. Pak Juhe mempersilahkan tamunya masuk ke rumahnya.
“Bagaimana Pak Akhmad, apa yang bisa saya bantu?”. Pak Juhe membuka percakapan siang itu, di teras rumahnya.
“Begini Pak, saya perlu bantuan bapak untuk pinjam uang koperasi, karena bibi saya dikampung kena musibah. Dapur rumahnya ambruk diterjang hujan angin kemarin sore”.
“Oh begitu, berapa Pak Akhmad perlu uangnya?”. Pak Juhe mengernyitkan dahinya, sambil menebak-nebak kira-kira berapa uang yang akan diajukan Pak Akhmad.
“Satu juta rupiah aja Pak Juhe, Bapak bisa bantu kan?”. Pak Akhmad mengucapkannya sambil berhati-hati.
“Oh segitu yaa. Kalau saya sih enggak memegang uang itu, karena uangnya ada di bendahara koperasi, Ibu Kati namanya. Tapi nanti saya bicarakan dulu ya dengan Ibu Kati, mudah-mudahan uangnya ada.  Coba aja nanti sore Pak Akhmad kesini lagi. Barangkali aja uangnya ada”. Pak Juhe menjelaskan kepada Pak Akhmad sambil menjaga perasaannya, supaya tidak kecewa.
“Baik kalau begitu Pak Juhe, saya pamit dulu, sekali lagi maaf saya sudah mengganggu”. Pak Akhmad berbicara sambil berdiri dan sedikit membungkuk, supaya terlihat sopan di mata Pak Juhe.
“Oh iya..iya silahkan Pak Akhmad, nanti sore aja ditunggu, nanti saya kabari”.
Karena kebetulan pada hari itu Pak Juhe tidak ada rencana keluar rumah, maka setelah menerima tamu Pak Akhmad, selanjutnya Pak Juhe bergegas menuju rumahnya Ibu Kati, dengan harapan orangnya ada di rumah.
Setibanya di rumah Ibu Kati, kebetulan orang yang ingin ditemuinya itu ada di teras rumahnya sedang mengerjakan sesuatu.
“Assalamu’alikum Bu Kati, ada di rumah rupanya!”. Pak Juhe memberi salam setibanya di rumah Ibu Kati.
“Eeh Pak Juhe, wa’alaikum salam, mari pak silahkan masuk” Ibu Kati menjawab salam Pak Juhe, sekalian mempersilahkan tamunya masuk. Kemudian setelah keduanya duduk di kursi tamu, Ibu Kati memulai pembicaraan sebagai tuan rumah.
“Bagaimana Pak Juhe, ada apa gerangan, tumbenan siang-siang begini berkunjung kerumah. Ada masalah dengan koperasi atau masalah lainnya pak”. Ibu Kati langsung ke pokok permasalahan tanpa ada basa-basi lainnya.
“Betul Bu Kati, masalah koperasi. Tadi barusan saya kedatangan Pak Akhmad mau pinjam uang rupanya, Dia sedang memerlukan pinjaman uang dari koperasi kita”. Kata Pak Juhe begitu sopan.
“Berapa yang dia perlukan Pak Juhe?”. Ibu Kati langsung menanyakan jumlah uang yang diperlukan Pak Akhmad, sambil menunjukan wajah yang penuh curiga.
“Pak Akhmad, perlu uang satu juta rupiah saja bu. Dia ingin membantu bibinya di kampung terkena musibah. Rumahnya ambruk kena hujan angin kemarin sore, katanya”.
“Satu juta kan besar pak, apa dia nanti sanggup bayar”. Ibu Kati merespon dengan kurang senang.
“Pak Juhe, kemarin itu kan pak Kades ingin supaya koperasi kita berkembang. Saya sebagai bendahara tentunya harus melakukan upaya-upaya supaya keinginan pak Kades dapat dipenuhi”. Ibu Kati nyerocos menceritakan kesana kemari, yang terkadang enggak nyambung. Tapi ya itulah taktiknya ibu Kati, kalau sedang berargumentasi.
“Pak Jumri, kemarin kesini menawarkan meja kerja dari kayu jati, kelihatannya cocok buat meja kerja pak Kades, harganya murah pak, dia Cuma menawarkan tiga juta rupiah saja, makanya saya langsung ambil, saya hanya panjer satu juta aja, katanya sih besok barangnya dikirim. Kan lumayan pak nanti kita buat tagihan ke kas desa untuk pembelian meja kerja ini. Kita tagihkan saja tiga setengah juta,  kan koperasi dapat untung. Tenanglah Pak Juhe biar saya atur, bapak juga tidak saya lupakan, buat tambahan jajan sedikit-dikitlah”. Bu Kati berlaga sambil tersenyum tipis sedikit, biar dapat dimengerti oleh Pak Juhe.
Pak Juhe mendengarkan celotehannya Ibu Kati, sambil termanggu-manggu, dan bingung apa lagi yang hendak dia ucapkan. Sementara dia sadar bahwa keperluan Pak Akhmad juga harus dibantunya.
“Tapi bu, untuk keperluan Pak Akhmad juga perlu kita bantu kan. Dia juga anggota koperasi yang berhak mendapatkan pinjaman”. Kata Pak Juhe sekenanya.
“Begini Pak Juhe, katakan saja sama Pak Akhmad, koperasi lagi tidak ada uang, dan masih banyak yang mengantri selain dia, yang lebih membutuhkan. Nanti kalau koperasi ada uang pasti akan dipenuhi usulan pinjemannya”. Kata Ibu Kati menyarankan strategi menjawab kepada Pak Juhe, yang merupakan atasannya sebagai ketua koperasi.
“Tapi bu, saya sudah janji sama Pak Akhmad ketemu lagi sore, untuk mengabarkan usulan pinjamannya. Bagaimana kalau kita berikan saja sesuai kebutuhannya, agar dia menjadi senang”. Pak Juhe membujuk Ibu Kati untuk dapat berbaik hati membantu Pak Akhmad.
“Saya kan baru-baru ini, sudah membayar beberapa investor yang meminjamkan uangnya di koperasi kita, dan juga ada pembayaran macet yang belum bisa ditagihkan. Ini juga kan seharusnya Pak Juhe bisa mengerti tentang kondisi keuangan koperasi kita. Dan kalau memang Pak Akhmad perlu dibantu, bilang saja kita ada uang seratus ribu, karena yang lainnya juga pinjem engga besar-besar, karena pengurus juga harus bisa bersikap adil kepada semua anggota”. Ujar Ibu Kati sambil menunjukan wajah garangnya, agar kalimat-kalimat yang penuh retorikanya dapat diterima. Dan agar tampak dia sebagai pengurus koperasi yang adil dan bijaksana.
“Apalah artinya keperluan Pak Akhmad, berapa keuntungan koperasi dengan memberikan pinjeman kepadanya, dibandingkan dengan bisnis kita dengan Pak Kades, coba deh Pak Juhe renungkan”. Ibu Kati merendahkan nada bicaranya sambil menengok ke kanan dan kiri.
“Oh ya sebentar Pak Juhe, saya mau kebelakang dulu”. Ibu Kati bergegas kebelakang untuk sebuah keperluan nampaknya.
Dalam benak Pak Juhe, pasti Ibu Kati mau menghidangkan makanan dan minuman yang enak-enak. Karena kebetulan dari pagi Pak Juhe sebenarnya belum sarapan. Tetapi setelah beberapa lama Pak Juhe Menunggu,  Ibu Kati muncul tanpa membawa apa yang diharapkan. Ketika itu tenggorokan Pak Juhe terasa semakin haus saja.
Ibu Kati langsung duduk kembali di ruang tamu, dan sambil menyodorkan amplop putih, tertutup rapih, kemudian dia berbicara:
 “Ini Pak Juhe, sekedar sedikit aja buat jajan anak-anak, mudah-mudahan koperasi semakin maju kedepan dan kita juga bisa memberikan Sisa Hasil Usaha (SHU) kepada semua anggota koperasi”.   
Tanpa ada pertanyaan dari Pak Juhe, selanjutnya Ibu Kati atas inisiatifnya sendiri berbicara seputar SHU koperasi.
“Pak Juhe, Sebenarnya SHU itu kan bisa kita atur, yang penting ada uang yang dibagikan, pasti anggota senang. Mereka tidak pernah ada yang peduli, sebenarnya berapa SHU yang dihasilkan. Kalau pencapaiannya sudah sesuai target, ya sudah mereka pasti menerima”.
“Laporan SHU tidak usah besar-besar, nantinya pajaknya juga besar, lagi pula target kedepan bakal dibesarkan lagi. Mendingan kita saja yang atur, simpan aja sebagai cadangan misalnya, diluar laporan. Jadinya kan uang itu bisa leluasa kita pake”.
“Suatu saat koperasi perlu pembiayaan diluar dari pada pembukuan koperasi, bilang saja uang yang dipakai ini uang saya sendiri kok, iya kan Pak Juhe?”. Ibu Kati dengan lugasnya menjelaskan apa yang tidak ditanyakan. Taktik dan strateginya benar-benar jitu, sehingga dengan cara itu akan menimbulkan kesan bahwa betapa “berani berkorban” nya dari pengurus koperasi,  dalam menjalankan kepengurusannya menggunakan uang sendiri.
Rupanya Pak Juhe, sudah tidak ada pilihan lagi kecuali mengangguk, karena konsentrasinya buyar dengan perut lapar. Apapun yang disampaikan Ibu Kati, semuanya disetujuinya. Sementara Ibu Kati terus bicara, sebelum ada inisiatif memotong pembicaraan dari Pak Juhe.
 “Pak Juhe, masalah keuangan biar saya saja yang atur, yang penting semua opersional bisa lancar. Kita juga selalu berhubungan baik dengan Pak Kades, sehingga kita terus dapat kerjaan dari Pak Kades, bukan begitu Pak Juhe?”.
Sekali lagi Pak Juhe selalu menyetujui apa yang disampaikan oleh Ibu Kati. Sambil menunduk termenung, terlihatlah di hadapannya ada amplop berisi uang dari Ibu Kati.  Karena kebetulan dia juga punya keperluan rumah tangganya yang harus di tangani, maka Pak Juhe langsung saja pada intinya yaitu segera menyelamatkan amplop itu, sebelum Ibu Kati berubah pikiran.
“Baiklah Bu Kati, saya ambil amplopnya ya, terimakasih!”. Pak Juhe mengambil amplop itu kemudian dimasukannya dalam kantong bajunya.
Kelihatannya apa yang disampaikan Ibu Kati, tidak terjangkau pemikirannya oleh Pak Juhe, sehingga walaupun panjang lebar Ibu Kati menjelaskan, ujung-ujungnya yang dia tahu adalah kepingin membantu Pak Akhmad.
“Kalau nanti Pak Akhmad, menanyakan lagi perihal pinjemannya bagaimana bu?” Tanya Pak Juhe ingin memastikan.
“Ah itu sih gampang Pak Juhe, katakan saja seperti tadi. Koperasi lagi tidak ada uang, dimana-mana macet tagihannya, yang ingin pinjam banyak yang mengantri, kalau mau pinjem ke koperasi hanya bisa bantu seratus ribu, karena pengurus juga harus bersikap adil kepada anggota lainnya. Tetapi kalau perlu uang sebanyak itu, sarankan saja pinjam ke Bank, kan beres!”.  Ibu Kati menjelaskan dengan penegasan yang lebih tajam seakan-akan menggurui Pak Juhe sebagai ketua koperasinya.
“Kita harus berpikiran maju Pak Juhe, jangan seperti orang-orang yang tidak bisa mengelola, memenej, mengatur. Keuangan koperasi kita akan terus maju berkembang. Pak Kades juga sudah berbaik hati kepada kita, untuk tetap memberikan pekerjaan. Semua kebutuhan Kantor Desa, dan seluruh aparatnya kita penuhi kebutuhannya, dan selanjutnya kita tagihkan dengan keuntungan koperasi yang cukup lumayan”. Ibu Kati menjelaskan prospek kedepan bisnis dari koperasi dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dimengerti oleh Pak Juhe. Dan itupun kelihatannya tidak juga dimengerti oleh Pak Juhe.
Rupanya semakin lama semakin pening kepala Pak Juhe mendengar ocehannya Ibu Kati. Karena sebenarnya dia hanya ingin membantu Pak Akhmad. Tapi bagaimana lagi Ibu kati sang bendahara koperasi, sudah menguasai segalanya, bahkan dia juga merangkap sebagai bendahara desa, jadinya kan sudah klop, tagihan koperasi dia cairkan dari kas desa. Dan saking peningnya kepala, akhirnya Pak Juhe memutuskan untuk segera pamit.
Sore itu Pak Akhmad sudah menunggu di teras rumah Pak Juhe sang ketua koperasi. Kebetulan saat itu Pak Juhe masih ada di luar rumah. Lalu tak lama kemudian munculah Pak Juhe dengan wajah ceria dan riang gembira.
“Assalamu’alaikum Pak Juhe” Pak Akhmad mengucapkan salam terlebih dahulu, sambil sedikit membungkuk.
Bagaimana Pak Juhe, usulan pinjeman saya yang satu juta, apa sudah ada uangnya?”. Tanpa basa-basi lagi Pak Akhmad, menanyakan kepastian usulan pinjamannya dengan mata yang berbinar-binar penuh harap. Jakun tenggorokannya naik turun menunggu pernyataan yang akan disampaikan oleh ketua koperasi.
“Begini Pak Akhmad, saya sudah bicarakan ini dengan bendahara koperasi Ibu Kati, katanya koperasi lagi tidak ada uang, tagihannya macet dimana-mana, dan paling tidak koperasi hanya bisa bantu seratus ribu, yang bisa di pinjam Pak Akhmad”. Kata Pak Juhe, sambil berhati-hati mengucapkannya.
“Seratus ribu pak!, wah kalau uang segitu, enggak bisa membantu bibi saya di kampung,  Pak Juhe! ”. Nampaknya Pak Akhmad kecewa dengan kabar seperti itu. Dirinya merasa di hinakan, padahal selama ini belum pernah dia meminjam uang koperasi. Sekalinya perlu uang, malah dihinakan sedemikian rupa.
“Bagaimana Pak Akhmad, mau ambil uang itu, atau tetap harus satu juta rupiah. Kalau mau uang sebanyak itu saya sarankan ajukan aja pinjaman ke Bank”. Pak Juhe  memberitahukan Pak Akhmad seperti yang disarankan Ibu Kati.
“Maaf  terimakasih!!”. Tanpa bicara apa-apa lagi Pak Akhmad bergegas meninggalkan Pak Juhe.
Sambil menggeleng-gelengkan kepala, Pak Juhe melepas kepergian Pak Akhmad yang nampaknya kecewa berat. Sedih rasanya Pak Juhe menyaksikan kejadian seperti itu.
Nampaknya Pak Juhe tidak menyadari, kalau Pak Akhmad merupakan korban dari kepengurusan koperasi desa, yang tidak berimbang pola pikirnya antara ketua dan bendahara. Sang ketua yang benar-benar polos dan ingin senantiasa membantu anggota koperasi, sementara sang bendahara  dengan kecerdasannya malah menimbulkan kesengsaraan bagi anggota koperasi. Ibu Kati mungkin belum menyadari kalau Tuhan itu tidak pernah ngantuk dan juga tidak pernah tidur.
Pak Akhmad berjalan dengan penuh kekecawaan. Usulan pinjaman uang ke koperasi tidak dikabulkan. Dan ketika itu pula dia teringat kepada keponakannya yang bekerja di PLN. Dia ingin menanyakan apakah koperasi di PLN seperti koperasi di desanya, atau lebih baik dan dapat membantu anggotanya yang kesusahan. Tetapi keingintahuannya itu dia batalkan. Karena dia yakin keponakannya juga tidak dapat membantunya.
Pada ahirnya Pak Akhmad mengambil jalan pintas dengan meminjam uang ke rentenir, walaupun dengan bunga yang sangat tinggi. Kasihan deh lu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar