Cerita pendek Maaf Terimakasih
Tiba-tiba saja Pak Ahmad dikejutkan dengan berita yang kurang mengenakan di hati. Bibinya di kampung memberitahukan perlu uang segera, untuk biaya perbaikan dapur rumahnya yang ambruk karena hujan angin yang melanda kemarin sore.
Tiba-tiba saja Pak Ahmad dikejutkan dengan berita yang kurang mengenakan di hati. Bibinya di kampung memberitahukan perlu uang segera, untuk biaya perbaikan dapur rumahnya yang ambruk karena hujan angin yang melanda kemarin sore.
“Mad, ini bi icah,
kemarin sore dapur rumah bibi ambruk, kena hujan angin, barangkali bisa bantu,
bibi pinjem dulu barang satu juta sih!”. Suara gugup
bibinya terdengar dibalik telepon genggamnya.
“Oh gitu, bagaimana
dengan bibi serta paman apa tidak apa-apa?”.
“Alhamdulillah Mad
semuanya tidak apa-apa, hanya saja dapurnya ambruk, kalau Akhmad bisa bantu
bibi, sejuta aja Mad, buat perbaikan dapur”.
“Iii- Iya bi, nanti
Ahmad usahakan, bibi sabar dulu yah!”. Jawab Pak
Ahmad , sambil memutar otak, kemana dia harus mencari pinjaman yang mendadak
dan amat segera itu.
Ketika itu teringat
oleh Pak Ahmad akan koperasi di desanya, yang mana dia sendiri menjadi
anggotanya. Koperasi simpan pinjam itu diketuai oleh Pak Juhe. Dan siang itu
Pak Akhmad langsung bergegas mencari Pak Juhe untuk meminjam uang dari
koperasi.
Setibanya di
rumah Pak Juhe, nampaknya yang dicari Pak Akhmad kebetulan masih ada di
rumahnya. Kemudian setelahnya mengucapkan salam, Pak Akhmad mengemukakan maksud
kedatangannya.
“Pak Juhe, maaf
mengganggu, saya ada keperluan sebentar”.
“Eh Pak Akhmad, mari
silakan masuk”. Pak Juhe mempersilahkan tamunya masuk
ke rumahnya.
“Bagaimana Pak Akhmad,
apa yang bisa saya bantu?”. Pak Juhe membuka
percakapan siang itu, di teras rumahnya.
“Begini Pak, saya
perlu bantuan bapak untuk pinjam uang koperasi, karena bibi saya dikampung kena
musibah. Dapur rumahnya ambruk diterjang hujan angin kemarin sore”.
“Oh begitu, berapa Pak
Akhmad perlu uangnya?”. Pak Juhe mengernyitkan dahinya,
sambil menebak-nebak kira-kira berapa uang yang akan diajukan Pak Akhmad.
“Satu juta rupiah aja
Pak Juhe, Bapak bisa bantu kan?”. Pak Akhmad
mengucapkannya sambil berhati-hati.
“Oh segitu yaa. Kalau
saya sih enggak memegang uang itu, karena uangnya ada di bendahara koperasi,
Ibu Kati namanya. Tapi nanti saya bicarakan dulu ya dengan Ibu Kati,
mudah-mudahan uangnya ada. Coba aja
nanti sore Pak Akhmad kesini lagi. Barangkali aja uangnya ada”.
Pak Juhe menjelaskan kepada Pak Akhmad sambil menjaga perasaannya, supaya tidak
kecewa.
“Baik kalau begitu Pak
Juhe, saya pamit dulu, sekali lagi maaf saya sudah mengganggu”.
Pak Akhmad berbicara sambil berdiri dan sedikit membungkuk, supaya terlihat
sopan di mata Pak Juhe.
“Oh iya..iya silahkan
Pak Akhmad, nanti sore aja ditunggu, nanti saya kabari”.
Karena
kebetulan pada hari itu Pak Juhe tidak ada rencana keluar rumah, maka setelah
menerima tamu Pak Akhmad, selanjutnya Pak Juhe bergegas menuju rumahnya Ibu
Kati, dengan harapan orangnya ada di rumah.
Setibanya di
rumah Ibu Kati, kebetulan orang yang ingin ditemuinya itu ada di teras rumahnya
sedang mengerjakan sesuatu.
“Assalamu’alikum Bu
Kati, ada di rumah rupanya!”. Pak Juhe memberi
salam setibanya di rumah Ibu Kati.
“Eeh Pak Juhe,
wa’alaikum salam, mari pak silahkan masuk”
Ibu Kati menjawab salam Pak Juhe, sekalian mempersilahkan tamunya masuk.
Kemudian setelah keduanya duduk di kursi tamu, Ibu Kati memulai pembicaraan
sebagai tuan rumah.
“Bagaimana Pak Juhe,
ada apa gerangan, tumbenan siang-siang begini berkunjung kerumah. Ada masalah
dengan koperasi atau masalah lainnya pak”.
Ibu Kati langsung ke pokok permasalahan tanpa ada basa-basi lainnya.
“Betul Bu Kati,
masalah koperasi. Tadi barusan saya kedatangan Pak Akhmad mau pinjam uang
rupanya, Dia sedang memerlukan pinjaman uang dari koperasi kita”.
Kata Pak Juhe begitu sopan.
“Berapa yang dia
perlukan Pak Juhe?”. Ibu Kati langsung menanyakan
jumlah uang yang diperlukan Pak Akhmad, sambil menunjukan wajah yang penuh
curiga.
“Pak Akhmad, perlu
uang satu juta rupiah saja bu. Dia ingin membantu bibinya di kampung terkena
musibah. Rumahnya ambruk kena hujan angin kemarin sore, katanya”.
“Satu juta kan besar
pak, apa dia nanti sanggup bayar”. Ibu Kati merespon
dengan kurang senang.
“Pak Juhe, kemarin itu
kan pak Kades ingin supaya koperasi kita berkembang. Saya sebagai bendahara
tentunya harus melakukan upaya-upaya supaya keinginan pak Kades dapat
dipenuhi”.
Ibu Kati nyerocos menceritakan kesana kemari, yang terkadang
enggak nyambung. Tapi ya itulah taktiknya ibu Kati, kalau sedang
berargumentasi.
“Pak Jumri, kemarin
kesini menawarkan meja kerja dari kayu jati, kelihatannya cocok buat meja kerja
pak Kades, harganya murah pak, dia Cuma menawarkan tiga juta rupiah saja,
makanya saya langsung ambil, saya hanya panjer satu juta aja, katanya sih besok
barangnya dikirim. Kan lumayan pak nanti kita buat tagihan ke kas desa untuk
pembelian meja kerja ini. Kita tagihkan saja tiga setengah juta, kan koperasi dapat untung. Tenanglah Pak Juhe
biar saya atur, bapak juga tidak saya lupakan, buat tambahan jajan
sedikit-dikitlah”. Bu Kati berlaga sambil tersenyum
tipis sedikit, biar dapat dimengerti oleh Pak Juhe.
Pak Juhe
mendengarkan celotehannya Ibu Kati, sambil termanggu-manggu, dan bingung apa
lagi yang hendak dia ucapkan. Sementara dia sadar bahwa keperluan Pak Akhmad
juga harus dibantunya.
“Tapi bu, untuk
keperluan Pak Akhmad juga perlu kita bantu kan. Dia juga anggota koperasi yang
berhak mendapatkan pinjaman”. Kata Pak Juhe sekenanya.
“Begini Pak Juhe,
katakan saja sama Pak Akhmad, koperasi lagi tidak ada uang, dan masih banyak
yang mengantri selain dia, yang lebih membutuhkan. Nanti kalau koperasi ada
uang pasti akan dipenuhi usulan pinjemannya”.
Kata Ibu Kati menyarankan strategi menjawab kepada Pak Juhe, yang merupakan
atasannya sebagai ketua koperasi.
“Tapi bu, saya sudah
janji sama Pak Akhmad ketemu lagi sore, untuk mengabarkan usulan pinjamannya.
Bagaimana kalau kita berikan saja sesuai kebutuhannya, agar dia menjadi
senang”. Pak Juhe membujuk Ibu Kati untuk dapat
berbaik hati membantu Pak Akhmad.
“Saya kan baru-baru
ini, sudah membayar beberapa investor yang meminjamkan uangnya di koperasi
kita, dan juga ada pembayaran macet yang belum bisa ditagihkan. Ini juga kan
seharusnya Pak Juhe bisa mengerti tentang kondisi keuangan koperasi kita. Dan
kalau memang Pak Akhmad perlu dibantu, bilang saja kita ada uang seratus ribu,
karena yang lainnya juga pinjem engga besar-besar, karena pengurus juga harus
bisa bersikap adil kepada semua anggota”. Ujar Ibu Kati
sambil menunjukan wajah garangnya, agar kalimat-kalimat yang penuh retorikanya
dapat diterima. Dan agar tampak dia sebagai pengurus koperasi yang adil dan
bijaksana.
“Apalah artinya
keperluan Pak Akhmad, berapa keuntungan koperasi dengan memberikan pinjeman
kepadanya, dibandingkan dengan bisnis kita dengan Pak Kades, coba deh Pak Juhe
renungkan”.
Ibu Kati merendahkan nada bicaranya sambil menengok ke kanan
dan kiri.
“Oh ya sebentar Pak Juhe,
saya mau kebelakang dulu”. Ibu Kati bergegas
kebelakang untuk sebuah keperluan nampaknya.
Dalam benak Pak
Juhe, pasti Ibu Kati mau menghidangkan makanan dan minuman yang enak-enak.
Karena kebetulan dari pagi Pak Juhe sebenarnya belum sarapan. Tetapi setelah
beberapa lama Pak Juhe Menunggu, Ibu
Kati muncul tanpa membawa apa yang diharapkan. Ketika itu tenggorokan Pak Juhe
terasa semakin haus saja.
Ibu Kati
langsung duduk kembali di ruang tamu, dan sambil menyodorkan amplop putih,
tertutup rapih, kemudian dia berbicara:
“Ini Pak Juhe, sekedar sedikit aja buat jajan anak-anak,
mudah-mudahan koperasi semakin maju kedepan dan kita juga bisa memberikan Sisa
Hasil Usaha (SHU) kepada semua anggota koperasi”.
Tanpa ada
pertanyaan dari Pak Juhe, selanjutnya Ibu Kati atas inisiatifnya sendiri
berbicara seputar SHU koperasi.
“Pak Juhe, Sebenarnya SHU
itu kan bisa kita atur, yang penting ada uang yang dibagikan, pasti anggota
senang. Mereka tidak pernah ada yang peduli, sebenarnya berapa SHU yang
dihasilkan. Kalau pencapaiannya sudah sesuai target, ya sudah mereka pasti
menerima”.
“Laporan SHU tidak
usah besar-besar, nantinya pajaknya juga besar, lagi pula target kedepan bakal
dibesarkan lagi. Mendingan kita saja yang atur, simpan aja sebagai cadangan
misalnya, diluar laporan. Jadinya kan uang itu bisa leluasa kita pake”.
“Suatu saat koperasi perlu
pembiayaan diluar dari pada pembukuan koperasi, bilang saja uang yang dipakai
ini uang saya sendiri kok, iya kan Pak Juhe?”.
Ibu Kati dengan lugasnya menjelaskan apa yang tidak ditanyakan. Taktik dan
strateginya benar-benar jitu, sehingga dengan cara itu akan menimbulkan kesan
bahwa betapa “berani berkorban” nya
dari pengurus koperasi, dalam
menjalankan kepengurusannya menggunakan uang sendiri.
Rupanya Pak Juhe,
sudah tidak ada pilihan lagi kecuali mengangguk, karena konsentrasinya buyar dengan
perut lapar. Apapun yang disampaikan Ibu Kati, semuanya disetujuinya. Sementara
Ibu Kati terus bicara, sebelum ada inisiatif memotong pembicaraan dari Pak Juhe.
“Pak Juhe, masalah keuangan biar saya saja
yang atur, yang penting semua opersional bisa lancar. Kita juga selalu
berhubungan baik dengan Pak Kades, sehingga kita terus dapat kerjaan dari Pak
Kades, bukan begitu Pak Juhe?”.
Sekali lagi Pak
Juhe selalu menyetujui apa yang disampaikan oleh Ibu Kati. Sambil menunduk
termenung, terlihatlah di hadapannya ada amplop berisi uang dari Ibu Kati. Karena kebetulan dia juga punya keperluan
rumah tangganya yang harus di tangani, maka Pak Juhe langsung saja pada intinya
yaitu segera menyelamatkan amplop itu, sebelum Ibu Kati berubah pikiran.
“Baiklah Bu Kati, saya
ambil amplopnya ya, terimakasih!”. Pak Juhe mengambil
amplop itu kemudian dimasukannya dalam kantong bajunya.
Kelihatannya
apa yang disampaikan Ibu Kati, tidak terjangkau pemikirannya oleh Pak Juhe,
sehingga walaupun panjang lebar Ibu Kati menjelaskan, ujung-ujungnya yang dia
tahu adalah kepingin membantu Pak Akhmad.
“Kalau nanti Pak
Akhmad, menanyakan lagi perihal pinjemannya bagaimana bu?”
Tanya Pak Juhe ingin memastikan.
“Ah itu sih gampang Pak
Juhe, katakan saja seperti tadi. Koperasi lagi tidak ada uang, dimana-mana
macet tagihannya, yang ingin pinjam banyak yang mengantri, kalau mau pinjem ke
koperasi hanya bisa bantu seratus ribu, karena pengurus juga harus bersikap
adil kepada anggota lainnya. Tetapi kalau perlu uang sebanyak itu, sarankan
saja pinjam ke Bank, kan beres!”. Ibu Kati menjelaskan dengan penegasan yang lebih
tajam seakan-akan menggurui Pak Juhe sebagai ketua koperasinya.
“Kita harus berpikiran
maju Pak Juhe, jangan seperti orang-orang yang tidak bisa mengelola, memenej,
mengatur. Keuangan koperasi kita akan terus maju berkembang. Pak Kades juga
sudah berbaik hati kepada kita, untuk tetap memberikan pekerjaan. Semua
kebutuhan Kantor Desa, dan seluruh aparatnya kita penuhi kebutuhannya, dan
selanjutnya kita tagihkan dengan keuntungan koperasi yang cukup lumayan”.
Ibu Kati menjelaskan prospek kedepan bisnis dari koperasi dengan bahasa yang
lebih sederhana dan mudah dimengerti oleh Pak Juhe. Dan itupun kelihatannya
tidak juga dimengerti oleh Pak Juhe.
Rupanya semakin
lama semakin pening kepala Pak Juhe mendengar ocehannya Ibu Kati. Karena
sebenarnya dia hanya ingin membantu Pak Akhmad. Tapi bagaimana lagi Ibu kati
sang bendahara koperasi, sudah menguasai segalanya, bahkan dia juga merangkap
sebagai bendahara desa, jadinya kan sudah klop, tagihan koperasi dia cairkan
dari kas desa. Dan saking peningnya kepala, akhirnya Pak Juhe memutuskan untuk
segera pamit.
Sore itu Pak
Akhmad sudah menunggu di teras rumah Pak Juhe sang ketua koperasi. Kebetulan
saat itu Pak Juhe masih ada di luar rumah. Lalu tak lama kemudian munculah Pak Juhe
dengan wajah ceria dan riang gembira.
“Assalamu’alaikum Pak Juhe”
Pak Akhmad mengucapkan salam terlebih dahulu, sambil sedikit membungkuk.
“Bagaimana Pak Juhe,
usulan pinjeman saya yang satu juta, apa sudah ada uangnya?”.
Tanpa basa-basi lagi Pak Akhmad, menanyakan kepastian usulan pinjamannya dengan
mata yang berbinar-binar penuh harap. Jakun tenggorokannya naik turun menunggu
pernyataan yang akan disampaikan oleh ketua koperasi.
“Begini Pak Akhmad,
saya sudah bicarakan ini dengan bendahara koperasi Ibu Kati, katanya koperasi
lagi tidak ada uang, tagihannya macet dimana-mana, dan paling tidak koperasi
hanya bisa bantu seratus ribu, yang bisa di pinjam Pak Akhmad”.
Kata Pak Juhe, sambil berhati-hati mengucapkannya.
“Seratus ribu pak!,
wah kalau uang segitu, enggak bisa membantu bibi saya di kampung, Pak Juhe! ”.
Nampaknya Pak Akhmad kecewa dengan kabar seperti itu. Dirinya merasa di
hinakan, padahal selama ini belum pernah dia meminjam uang koperasi. Sekalinya
perlu uang, malah dihinakan sedemikian rupa.
“Bagaimana Pak Akhmad,
mau ambil uang itu, atau tetap harus satu juta rupiah. Kalau mau uang sebanyak
itu saya sarankan ajukan aja pinjaman ke Bank”.
Pak Juhe memberitahukan Pak Akhmad
seperti yang disarankan Ibu Kati.
“Maaf terimakasih!!”.
Tanpa bicara apa-apa lagi Pak Akhmad bergegas meninggalkan Pak Juhe.
Sambil menggeleng-gelengkan
kepala, Pak Juhe melepas kepergian Pak Akhmad yang nampaknya kecewa berat.
Sedih rasanya Pak Juhe menyaksikan kejadian seperti itu.
Nampaknya Pak Juhe
tidak menyadari, kalau Pak Akhmad merupakan korban dari kepengurusan koperasi
desa, yang tidak berimbang pola pikirnya antara ketua dan bendahara. Sang ketua
yang benar-benar polos dan ingin senantiasa membantu anggota koperasi,
sementara sang bendahara dengan
kecerdasannya malah menimbulkan kesengsaraan bagi anggota koperasi. Ibu Kati mungkin
belum menyadari kalau Tuhan itu tidak pernah ngantuk dan juga tidak pernah
tidur.
Pak Akhmad
berjalan dengan penuh kekecawaan. Usulan pinjaman uang ke koperasi tidak
dikabulkan. Dan ketika itu pula dia teringat kepada keponakannya yang bekerja
di PLN. Dia ingin menanyakan apakah koperasi di PLN seperti koperasi di
desanya, atau lebih baik dan dapat membantu anggotanya yang kesusahan. Tetapi
keingintahuannya itu dia batalkan. Karena dia yakin keponakannya juga tidak
dapat membantunya.
Pada ahirnya
Pak Akhmad mengambil jalan pintas dengan meminjam uang ke rentenir, walaupun
dengan bunga yang sangat tinggi. Kasihan deh lu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar