Senin, 02 Februari 2015

ALHAMDULILLAAH MATUR KESUWUN




 Cerita pendek Alhamdulillah Matur Kewun
Hari itu Arman kebetulan tidak begitu sibuk di kantor, sehingga selepasnya jam kantor dia langsung bisa pulang. Sebelum pulang dia terbersit dalam hatinya untuk mengunjungi Pamannya, karena memang sudah lama belum pernah ketemu lagi. Dia pikir mau mampir sebentar saja hanya untuk sekedar bersilaturahmi atau sekedar menanyakan sana sini kabar dari adik bapaknya, yang bernama Pak Akhmad itu.
“Assalamualaikum, Mang…Mang!”. Arman mengucapkan salam sambil mengetuk pintu rumah Pak Akhmad. Kemudian dari dalam rumah terdengar suaru seak seok sandal, mendekati kearah pintu ruang tamu.
“Eh Nang Arman, tumben masih sore sudah pulang, kata istrimu biasanya kamu pulang malem terus tiap hari, ayo masuk Nang!”. Pak Akhmad mempersilahkan keponakannya itu untuk masuk kedalam rumahnya. Keponakannya yang bernama Arman selalu dipanggilnya dengan panggilan sayang “Nang” oleh Pak Akhmad. Rumah Pak Akhmad kebetulan tidak mempunyai teras, sehabis gang langsung pintu rumah, jadinya kalau hujan ya sering ngepris-ngepris dikit masuk sampai ruang tamu.
“Gimana kabarnya Mang, sehat-sehat tah, bibi mana Mang,  apa lagi keluar”.
“Alhamdulillah Nang, pada sehat semuanya, bibi ada di dalam tuh lagi goreng tempe, kamu jangan pulang dulu ya! sebelum bibimu selesai goreng tempenya”. Pak Akhmad berucap sambil membenahi kursi tamu, agar Armand dan dia sendiri bisa duduk. Kemudian setelah mereka semuanya duduk, Arman mulai bicara untuk mengutarakan maksud kedatangannya.
“Kebetulan saya lagi senggang di kantor Mang, makanya saya mampir kesini. Gimana ada kabar apa nih Mang, saya sudah lama gak ketemu”. Arman memulai pembicaraan agar tidak terjadi kekosongan komunikasi.
“Yah biasa aja Nang, cuman saja tadi pagi Mbahmu yang di kampung itu ngasih tahu, dapur rumahnya ambruk kena hujan angin kemarin sore katanya”.
“Terus gimana Mbah…Mang,  nggak apa-apa kan?”
“Mereka tidak apa-apa semuanya selamat, sehat-sehat saja, tapi ya itu tadi, karena dapurnya ambruk, perlu biaya perbaikan”.
“Berapa katanya perlu biayanya Mang”.
“Katanyanya sih sejuta aja cukup, trus Mamang upayakan cari pinjeman kesana kemari, akhirnya ya dapet juga, tapi uangnya sih belum di kasih katanya sih besok sore”.
“Minjem kemana uang satu juta itu, Mang”.
“Pinjem ke Juragan Sani, itu loh yang punya usaha angkot”.
“Tapi ya itu, karena pinjemnya mendadak, trus gak punya jaminan apa-apa, ya Mamang harus ngembalikan dalam satu bulan ini dua kali lipat, katanya sih itu uang opersional angkot yang nggak boleh kosong”.
“Hah… minjem satu juta harus kembali dua juta, busyet deh”.
“Kenapa Mamang nggak ngasih tahu saya, di kantor saya kan ada koperasi PLN, kalau yang perlu mendadak-mendadak begitu biasanya bisa langsung di bantu”.
“Ya itu juga Mamang sebelumnya berusaha pinjem ke koperasi desa sini, kan Mamang juga jadi anggotanya, tapi nampaknya mereka tidak mau ngasih pinjeman”.
“Ya sudah lah Nang, besok sore kalau uangnya sudah ada dari Juragan Sani, Mamang mau kirimkan ke Embahmu di kampung, buat perbaikan dapur”.
“Tunggu ..tunggu dulu Mang, gimana kalau besok saya di kantor mau upayakan pinjem ke koperasi PLN, saya juga kebetulan jadi anggota, dan belum pernah pinjam ke koperasi”.
“Oh gitu Nang Arman, dikira Mamang kamu nggak bisa bantu kesulitan ini, eh malah antusias banget untuk mengupayakan bantuan macam gini, he he he “.
“Oh ya, bentar ..Maah…Mah, ini Arman dari tadi kehausan, minumannya  kok nggak datang-datang juga”.
“Eh iya, Nak Arman gimana sehat, istri sama anak-anakmu sehat juga kah!” Kata istri Pak Akhmad dengan logat Kalimantan yang begitu medoknya.
“Iya bi, Alhamdulillaah sehat semua. Sudah nggak usah ngrepotin bii, saya juga gak lama-lama, mau ada perlu lagi”.
“Oh ya nak, bibi baru saja goreng tempe, titip yah buat di rumah, sebentar bibi mau bungkusin.”.
“Ah bibi ngrepotin aja. Oh ya Mang saya nggak lama-lama nih, jadinya ingat pesenan si Acil perlu penggaris dan kertas gambar buat besok. Saya pamit dulu yaa”.
“Eh sebentar aja rupanya, pengennya sih ngobrol dulu, tapi ya sudah Nang, lagian sekarang kadang-kadang hujan nggak bisa di duga-duga”.
“Sudah ya Bii, Maang, Arman pamit, mudah-mudahan besok sudah ada kabar”.
“Iya Nang terimakasih, ati-ati di jalan, jangan ngebut, he he he “. Pak Akhmad dan istrinya mengantar Arman pulang di depan pintu rumahnya, sambil memandangi Arman menghilang mengendarai sepeda motornya.
Sepulangnya dari rumah pamannya, Arman berfikir keras, gimana caranya supaya besok sebelum sore sudah dapat uang, untuk membantu Embahnya di kampung. Mang Akhmad jangan sampai ketemu dengan Juragan Sani, orang brengsek itu.
Selepas magrib, Arman pamit pada istrinya mau bersilaturahmi ke rumah temannya, yaitu Pak Jahid ketua koperasi PLN. Sebelumnya Arman telepon dulu, apa Pak Jahid ada dirumah, supaya bisa ketemu kalau berkunjung. Nampaknya Pak Jahid tidak ada rencana keluar malam itu, sehingga mempersilahkan Arman untuk berkunjung ke rumahnya.
Setibanya di rumah Pak Jahid kemudian Arman langsung mengemukakan maksud dan tujuannya, silaturahmi kali ini.
“Maaf  Pak Jahid, saya ada keperluan keuangan sedikit, barangkali dari koperasi PLN bapak bisa bantu”. Arman mencoba hati-hati dalam mengutarakannya, karena yang dihadapi kali ini adalah ketua koperasi yang terkenal di kantornya.
“Oh ya silahkan aja Mas, kan uang koperasi itu untuk membantu anggota nya, emangnya perlu berapa mas”. Pak Jahid dengan entengnya berucap, wajahnya penuh senyum dan senantiasa wellcome menghadapi tamunya itu.
“Cuman sejuta aja Pak, biar nanti pengembaliannya dicicil begitu”.
“Oh segitu sih nggak seberapa mas, nanti saya siapkan, biar urusan di kantornya saya bicarakan dengan Ibu Dewi, bendahara koperasi” Pak Jahid, tidak merasa kaget dengan sejumlah uang yang diucapkan Arman. Tetapi lain lagi yang dirasakan dalam hati Arman, karena dalam benaknya, pasti sebelum itu akan adu argumentasi dulu dengan sang ketua koperasi untuk mendapatkan persetujuan pinjamannya itu. Persiapan yang matang sejak dari rumahnya ternyata tidak berlaku,  begitu berhadapan dengan Pak Jahid. Ternyata Pak Jahid orangnya enjoy juga.
“Emangnya buat keperluan apa mas, barangkali boleh tahu”.
“Begini pak, saya punya paman Pak Akhmad namanya, mau membantu bibinya di kampung, karena kena musibah, dapurnya ambruk kena hujan angin kemarin, tapi paman saya ini pinjam ke koperasi desa tidak dapat, eh malah dia pinjam ke renternir nampaknya”.
“Bayangkan saja pak, paman saya ini mau pinjem sejuta aja, dalam waktu satu bulan harus dikembalikan dua juta katanya, brengsek!!”
“Ya tapi mas, bilang brengseknya jangan sambil melotot gitu, emangnya saya salah apa”. Pak Jahid mengucapkan kata guyon nya itu, sambil bersikap menghindar, seakan-akan takut kalau-kalau kena pukul dari Arman.
“Oh..oh maaf pak Jahid, saya keceplosan emosional, karena ‘hare gene’ masih ada aja orang yang kaya gitu”.
“Yah itulah mas namanya juga rentenir, nggak punya hati, nggak punya perasaan. Makanya di PLN dengan adanya koperasi ini bisa membantu para anggotanya apabila dalam keadaan kesulitan seperti ini”. Pak Jahid berupaya untuk menenangkan Arman, supaya dia tidak panik dengan masalah yang dihadapinya.
“Tapi pak, paman saya juga sudah berusaha sebelumnya pinjam ke koperasi desa, dia juga kan jadi anggotanya, tapi nggak dapat pinjaman juga tuh”.
“Mas namanya aja koperasi, tapi dalam pengelolaan pengurusnya berbeda-beda, ada koperasi yang dikuasai oleh ketuanya, semua pengurus tidak tahu menahu pengelolaannya, ada juga yang dikuasai oleh bendaharanya, sehingga semua uang koperasi dia gunakan seenaknya, dan ada juga koperasi di kuasai oleh bidang logistiknya, sehingga barang-barang niaganya dia kelola se enaknya, keuntungannya juga kemana tahu, yah macem-macem lah”.
“Kalau koperasi di PLN bagaimana pak” Arman mencoba untuk menyelidik, untuk mengetahui kondisi koperasi PLN yang selama ini memang dia belum banyak tahu.
“Alhamdulillah mas, kami pengurus kompak saling membantu satu sama lain, dan betul-betul memperhatikan keperluan anggota. Juga dalam pengelolaan usaha dibuat transparan, dan selalu mengembangkan bisnisnya supaya koperasinya maju, dan semua anggotanya menjadi sejahtera”.
“Usaha koperasi tahun ini kita mendapat untung besar, dengan mengembangkan bisnis pasokan material yang diperlukan oleh PLN, sehingga mudah-mudahan dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT), yang akan di gelar dalam waktu dekat ini, kita bisa memberikan Sisa Hasil Usaha (SHU) yang betul-betul mantaap“.
“Pada acara RAT nanti kita juga akan memberikan beberapa hadiah, doorprice, dan uang saku, kepada semua anggota koperasi yang menghadiri RAT. Semuanya itu adalah punya anggota kemudian dikelola pengurus dan hasilnya ya dikembalikan ke anggota, he he he ”
“Wah..wah keren ya, apa tuh hadiahnya pak”. Mata Arman berbinar-binar menunjukan kesenangan yang bukan main. Seolah-olah dia merasa menyesal kenapa baru sekarang dia ketahui.
“Tahun kemarin saja kita sanggup memberikan hadiah motor pada saat RAT, dan beberapa barang-barang elektronik, dan bejibun hadiah lainnya yang keren keren. Bisa jadi tahun ini dapat kita sediakan motor juga, atau lebih keren dari itu paket Umrah misalnya!”. Pak Jahid menjelaskan dengan penuh semangat yang berapi-api.
“Waaouu….. amazing banget ya”.  Mulut Arman ternganga mendengar penjelasan yang sungguh spektakuler seperti itu dari Pak Jahid.
“RAT besok mas Arman juga hadir ya, karena ada acara hiburannya juga lho, lumayan organ tunggal, barangkali mau menyumbangkan lagu, Mas Arman bisa nyanyi kan?” Pak Jahid mencoba untuk membangkitkan gairah muda Arman, untuk berpartisipasi pada saat acara RAT nanti.
“Iya pak, nanti saya siapkan lagunya, kalau saya sih senengnya lagu “Kabablasan” yang dinyanyikan sama Penyanyi Ita, he he he “.
“Wah semua pada joget dong, lagunya enak tuh, Bapak juga pernah denger”.
“Tapi pak ngomong-ngomong, kalau macam saya yang perlu mendadak uang pinjeman begini, bagaimana mekanismenya pak”.
“Ya seharusnya Mas Arman, buat permohonan dulu, kemudian dari bendahara akan disediakan jumlah uang yang diperlukan, selanjutnya Mas Arman menandatangani persetujuan pinjaman, bigitu mekanismenya”.
“Tapi begini saja. Mas Arman bawa aja dulu uang yang diperlukan pamanmu, kemudian besok pagi-pagi ke bendahara mengajukan permohonannya, Namanya Ibu Dewi, bendahara koperasi di bagian keuangan, dia orangnya baik kok,  bilang saja sudah ada persetujuan dengan Pak Jahid gitu, nanti saya juga telepon Ibu Dewi-nya”. Pak Jahid memastikan dan menjajikan kepada Arman proses yang sangat mudah dan tidak berbelit.
“Baik pak kalau gitu,….. ngomong-ngomong barangkali kemalaman, saya…. mau pamit dulu pak” Arman mengucapkan pamit sambil berdiri.
“Eh belum di dusuguhin minum kok sudah mau pamit, …Ya sudahlah kalau gitu, Oh ya sebentar uangnya, saya mau siapkan” Ujar Pak Jahid sambil masuk ke dalam rumahnya.
“Nah ini Mas Arman, uangnya. Jangan lupa ya RAT besok hadir, ajakin temen-temen yang lainnya untuk memeriahkan acara RAT kita besok ya!, biar meriah. Dan dari laporan pengurus Koperasi nantinya Mas Arman akan lebih tahu lagi kondisi koperasi kita. Undangan yang lain juga nanti pada hadir, ada yang dari pensiunan, pegawai-pegawai PLN yang dari pelosok-pelosok sana nanti juga pada datang”. Demikian Pak Jahid tak henti-hentinya mempromosikan acara RAT yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini.
Kemudian selanjutnya Arman keluar rumah Pak Jahid,  dan pamit pulang.
Pagi-pagi sebelum berangkat ke kantor, Arman sengaja mampir dulu ke rumah Pak Akhmad pamannya. Supaya dia jangan sampai bertemu dengan Juragan Sani sang rentenir brengsek itu.
“Mang …Mang  ini Arman”. Didepan pintu rumah Pak Akhmad, seorang lelaki muda berbaju putih, mengetuk pintu memanggil pamannya.
“Lho kok belum brangkat kerja” Pak Akhmad kaget melihat Arman didepan pintu rumahnya ketika dibuka.
“Iya Mang, saya kesini dulu. Ini uang buat bantu Embah di kampung. Semalam saya berkunjung ke ketua koperasi PLN, eh ternyata langsung dikasih pinjeman”.
“Berapa  ini  Nang” Pak Akhmad, agak ragu kalau-kalau uang yang ada didalam amplop itu nggak cukup untuk dikirimkan ke kampung, untuk membantu bibinya.
“Ya sesuai keperluan Embah buat perbaiki dapur yang ambruk itu” Sambil tersenyum manis Arman meyakinkan pamannya, bahwa masalah ini sudah selesai.
“Alhamdulillaah matur kesuwun” Bagai tersiram hujan, ketika suasana panas terik matahari yang menyengat, Pak Akhmad mengucapkan dengan penuh syukur.
“Masuk dulu sini, ngopi-ngopi dulu” Pak Akhmad sedikit basa-basi mengajak keponakannya masuk rumah.
“Ah nggak usah Mang,  saya langsung ke kantor aja lagi banyak urusan”
“Ya sudah Nang, makasih yaa” Senyum yang berkembang di bibir Pak Akhmad, seolah memberikan kesan bangga kepada keponakannya Arman, yang menjadi pegawai di PLN.
“Sudah ya Mang, saya pamit dulu, salam buat Bibi!”. Arman terburu-buru hendak langsung ke kantor, karena ada beberapa urusan yang harus segera diselesaikan.
Sepergiannya Arman, mata Pak Akhmad berkaca-kaca karena haru. Keponakannya yang disangkanya tidak bisa membantu, ternyata begitu antusias dan penuh semangat untuk membantu keluarganya yang sedang mengalami kesulitan. Bahkan, tidak pernah dibicarakan sepatah katapun, bagaimana pengembaliannya.
“Mudah-mudahan kamu akan menjadi orang baik Nang”. Gumam Pak Akhmad mengucapkan sebuah kalimat di dalam hati, yang tak akan pernah terdengar oleh siapapun, tetapi akan terdengar oleh Allah yang Maha Perkasa.
Beberapa hari kemudian Pak Akhmad, terima telepon dari bibinya, “Mad, terimakasih yaa, dapur bibi disini sudah baik lagi, kapan mau main kesini, ajak sekalian si Arman sama anaknya, …. Tuuut….tut….tut…..tuut…”. Demikian suara telepon dari bibinya dikampung, dan rupanya pulsa teleponnya bibi habis.
The and - selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar