Cerita pendek Alhamdulillah Matur Kewun
Hari itu Arman kebetulan tidak begitu sibuk di kantor, sehingga selepasnya jam kantor dia langsung bisa pulang. Sebelum pulang dia terbersit dalam hatinya untuk mengunjungi Pamannya, karena memang sudah lama belum pernah ketemu lagi. Dia pikir mau mampir sebentar saja hanya untuk sekedar bersilaturahmi atau sekedar menanyakan sana sini kabar dari adik bapaknya, yang bernama Pak Akhmad itu.
Hari itu Arman kebetulan tidak begitu sibuk di kantor, sehingga selepasnya jam kantor dia langsung bisa pulang. Sebelum pulang dia terbersit dalam hatinya untuk mengunjungi Pamannya, karena memang sudah lama belum pernah ketemu lagi. Dia pikir mau mampir sebentar saja hanya untuk sekedar bersilaturahmi atau sekedar menanyakan sana sini kabar dari adik bapaknya, yang bernama Pak Akhmad itu.
“Assalamualaikum, Mang…Mang!”.
Arman mengucapkan salam sambil mengetuk pintu rumah Pak Akhmad. Kemudian dari
dalam rumah terdengar suaru seak seok sandal, mendekati kearah pintu ruang
tamu.
“Eh Nang Arman, tumben
masih sore sudah pulang, kata istrimu biasanya kamu pulang malem terus tiap
hari, ayo masuk Nang!”. Pak Akhmad mempersilahkan
keponakannya itu untuk masuk kedalam rumahnya. Keponakannya yang bernama Arman
selalu dipanggilnya dengan panggilan sayang “Nang” oleh Pak Akhmad. Rumah Pak
Akhmad kebetulan tidak mempunyai teras, sehabis gang langsung pintu rumah,
jadinya kalau hujan ya sering ngepris-ngepris dikit masuk sampai ruang tamu.
“Gimana kabarnya Mang,
sehat-sehat tah, bibi mana Mang, apa
lagi keluar”.
“Alhamdulillah Nang,
pada sehat semuanya, bibi ada di dalam tuh lagi goreng tempe, kamu jangan
pulang dulu ya! sebelum bibimu selesai goreng tempenya”.
Pak Akhmad berucap sambil membenahi kursi tamu, agar Armand dan dia sendiri
bisa duduk. Kemudian setelah mereka semuanya duduk, Arman mulai bicara untuk
mengutarakan maksud kedatangannya.
“Kebetulan saya lagi
senggang di kantor Mang, makanya saya mampir kesini. Gimana ada kabar apa nih
Mang, saya sudah lama gak ketemu”. Arman memulai
pembicaraan agar tidak terjadi kekosongan komunikasi.
“Yah biasa aja Nang,
cuman saja tadi pagi Mbahmu yang di kampung itu ngasih tahu, dapur rumahnya
ambruk kena hujan angin kemarin sore katanya”.
“Terus gimana Mbah…Mang, nggak apa-apa kan?”
“Mereka tidak apa-apa
semuanya selamat, sehat-sehat saja, tapi ya itu tadi, karena dapurnya ambruk,
perlu biaya perbaikan”.
“Berapa katanya perlu
biayanya Mang”.
“Katanyanya sih sejuta
aja cukup, trus Mamang upayakan cari pinjeman kesana kemari, akhirnya ya dapet
juga, tapi uangnya sih belum di kasih katanya sih besok sore”.
“Minjem kemana uang
satu juta itu, Mang”.
“Pinjem ke Juragan
Sani, itu loh yang punya usaha angkot”.
“Tapi ya itu, karena
pinjemnya mendadak, trus gak punya jaminan apa-apa, ya Mamang harus ngembalikan
dalam satu bulan ini dua kali lipat, katanya sih itu uang opersional angkot
yang nggak boleh kosong”.
“Hah… minjem satu juta
harus kembali dua juta, busyet deh”.
“Kenapa Mamang nggak
ngasih tahu saya, di kantor saya kan ada koperasi PLN, kalau yang perlu
mendadak-mendadak begitu biasanya bisa langsung di bantu”.
“Ya itu juga Mamang
sebelumnya berusaha pinjem ke koperasi desa sini, kan Mamang juga jadi
anggotanya, tapi nampaknya mereka tidak mau ngasih pinjeman”.
“Ya sudah lah Nang,
besok sore kalau uangnya sudah ada dari Juragan Sani, Mamang mau kirimkan ke Embahmu
di kampung, buat perbaikan dapur”.
“Tunggu ..tunggu dulu
Mang, gimana kalau besok saya di kantor mau upayakan pinjem ke koperasi PLN,
saya juga kebetulan jadi anggota, dan belum pernah pinjam ke koperasi”.
“Oh gitu Nang Arman,
dikira Mamang kamu nggak bisa bantu kesulitan ini, eh malah antusias banget untuk
mengupayakan bantuan macam gini, he he he “.
“Oh ya, bentar ..Maah…Mah,
ini Arman dari tadi kehausan, minumannya kok nggak datang-datang juga”.
“Eh iya, Nak Arman
gimana sehat, istri sama anak-anakmu sehat juga kah!”
Kata istri Pak Akhmad dengan logat Kalimantan yang begitu medoknya.
“Iya bi, Alhamdulillaah
sehat semua. Sudah nggak usah ngrepotin bii, saya juga gak lama-lama, mau ada
perlu lagi”.
“Oh ya nak, bibi baru
saja goreng tempe, titip yah buat di rumah, sebentar bibi mau bungkusin.”.
“Ah bibi ngrepotin
aja. Oh ya Mang saya nggak lama-lama nih, jadinya ingat pesenan si Acil perlu
penggaris dan kertas gambar buat besok. Saya pamit dulu yaa”.
“Eh sebentar aja
rupanya, pengennya sih ngobrol dulu, tapi ya sudah Nang, lagian sekarang kadang-kadang
hujan nggak bisa di duga-duga”.
“Sudah ya Bii, Maang,
Arman pamit, mudah-mudahan besok sudah ada kabar”.
“Iya Nang terimakasih,
ati-ati di jalan, jangan ngebut, he he he “.
Pak Akhmad dan istrinya mengantar Arman pulang di depan pintu rumahnya, sambil
memandangi Arman menghilang mengendarai sepeda motornya.
Sepulangnya
dari rumah pamannya, Arman berfikir keras, gimana caranya supaya besok sebelum
sore sudah dapat uang, untuk membantu Embahnya di kampung. Mang Akhmad jangan
sampai ketemu dengan Juragan Sani, orang brengsek itu.
Selepas magrib,
Arman pamit pada istrinya mau bersilaturahmi ke rumah temannya, yaitu Pak Jahid
ketua koperasi PLN. Sebelumnya Arman telepon dulu, apa Pak Jahid ada dirumah,
supaya bisa ketemu kalau berkunjung. Nampaknya Pak Jahid tidak ada rencana
keluar malam itu, sehingga mempersilahkan Arman untuk berkunjung ke rumahnya.
Setibanya di
rumah Pak Jahid kemudian Arman langsung mengemukakan maksud dan tujuannya,
silaturahmi kali ini.
“Maaf Pak Jahid, saya ada keperluan keuangan
sedikit, barangkali dari koperasi PLN bapak bisa bantu”.
Arman mencoba hati-hati dalam mengutarakannya, karena yang dihadapi kali ini
adalah ketua koperasi yang terkenal di kantornya.
“Oh ya silahkan aja
Mas, kan uang koperasi itu untuk membantu anggota nya, emangnya perlu berapa
mas”. Pak Jahid dengan entengnya berucap, wajahnya penuh senyum
dan senantiasa wellcome menghadapi tamunya itu.
“Cuman sejuta aja Pak,
biar nanti pengembaliannya dicicil begitu”.
“Oh segitu sih nggak
seberapa mas, nanti saya siapkan, biar urusan di kantornya saya bicarakan
dengan Ibu Dewi, bendahara koperasi” Pak Jahid,
tidak merasa kaget dengan sejumlah uang yang diucapkan Arman. Tetapi lain lagi
yang dirasakan dalam hati Arman, karena dalam benaknya, pasti sebelum itu akan adu argumentasi dulu dengan sang ketua
koperasi untuk mendapatkan persetujuan pinjamannya itu. Persiapan yang matang
sejak dari rumahnya ternyata tidak berlaku,
begitu berhadapan dengan Pak Jahid. Ternyata Pak Jahid orangnya enjoy
juga.
“Emangnya buat
keperluan apa mas, barangkali boleh tahu”.
“Begini pak, saya
punya paman Pak Akhmad namanya, mau membantu bibinya di kampung, karena kena
musibah, dapurnya ambruk kena hujan angin kemarin, tapi paman saya ini pinjam
ke koperasi desa tidak dapat, eh malah dia pinjam ke renternir nampaknya”.
“Bayangkan saja pak,
paman saya ini mau pinjem sejuta aja, dalam waktu satu bulan harus dikembalikan
dua juta katanya, brengsek!!”
“Ya tapi mas, bilang
brengseknya jangan sambil melotot gitu, emangnya saya salah apa”.
Pak Jahid mengucapkan kata guyon nya itu, sambil bersikap menghindar,
seakan-akan takut kalau-kalau kena pukul dari Arman.
“Oh..oh maaf pak Jahid,
saya keceplosan emosional, karena ‘hare gene’ masih ada aja orang yang kaya
gitu”.
“Yah itulah mas
namanya juga rentenir, nggak punya hati, nggak punya perasaan. Makanya di PLN
dengan adanya koperasi ini bisa membantu para anggotanya apabila dalam keadaan
kesulitan seperti ini”. Pak Jahid berupaya
untuk menenangkan Arman, supaya dia tidak panik dengan masalah yang
dihadapinya.
“Tapi pak, paman saya
juga sudah berusaha sebelumnya pinjam ke koperasi desa, dia juga kan jadi
anggotanya, tapi nggak dapat pinjaman juga tuh”.
“Mas namanya aja koperasi,
tapi dalam pengelolaan pengurusnya berbeda-beda, ada koperasi yang dikuasai
oleh ketuanya, semua pengurus tidak tahu menahu pengelolaannya, ada juga yang
dikuasai oleh bendaharanya, sehingga semua uang koperasi dia gunakan seenaknya,
dan ada juga koperasi di kuasai oleh bidang logistiknya, sehingga barang-barang
niaganya dia kelola se enaknya, keuntungannya juga kemana tahu, yah macem-macem
lah”.
“Kalau koperasi di PLN
bagaimana pak” Arman mencoba untuk menyelidik, untuk mengetahui
kondisi koperasi PLN yang selama ini memang dia belum banyak tahu.
“Alhamdulillah mas,
kami pengurus kompak saling membantu satu sama lain, dan betul-betul
memperhatikan keperluan anggota. Juga dalam pengelolaan usaha dibuat transparan,
dan selalu mengembangkan bisnisnya supaya koperasinya maju, dan semua
anggotanya menjadi sejahtera”.
“Usaha koperasi tahun
ini kita mendapat untung besar, dengan mengembangkan bisnis pasokan material
yang diperlukan oleh PLN, sehingga mudah-mudahan dalam Rapat Anggota Tahunan
(RAT), yang akan di gelar dalam waktu dekat ini, kita bisa memberikan Sisa
Hasil Usaha (SHU) yang betul-betul mantaap“.
“Pada acara RAT nanti
kita juga akan memberikan beberapa hadiah, doorprice, dan uang saku, kepada
semua anggota koperasi yang menghadiri RAT. Semuanya itu adalah punya anggota
kemudian dikelola pengurus dan hasilnya ya dikembalikan ke anggota, he he he ”
“Wah..wah keren ya,
apa tuh hadiahnya pak”. Mata Arman berbinar-binar
menunjukan kesenangan yang bukan main. Seolah-olah dia merasa menyesal kenapa
baru sekarang dia ketahui.
“Tahun kemarin saja
kita sanggup memberikan hadiah motor pada saat RAT, dan beberapa barang-barang
elektronik, dan bejibun hadiah lainnya yang keren keren. Bisa jadi tahun ini
dapat kita sediakan motor juga, atau lebih keren dari itu paket Umrah misalnya!”.
Pak Jahid menjelaskan dengan penuh semangat yang berapi-api.
“Waaouu….. amazing
banget ya”.
Mulut Arman ternganga mendengar penjelasan yang sungguh spektakuler
seperti itu dari Pak Jahid.
“RAT besok mas Arman
juga hadir ya, karena ada acara hiburannya juga lho, lumayan organ tunggal,
barangkali mau menyumbangkan lagu, Mas Arman bisa nyanyi kan?” Pak
Jahid mencoba untuk membangkitkan gairah muda Arman, untuk berpartisipasi pada
saat acara RAT nanti.
“Iya pak, nanti saya
siapkan lagunya, kalau saya sih senengnya lagu “Kabablasan” yang dinyanyikan
sama Penyanyi Ita, he he he “.
“Wah semua pada joget
dong, lagunya enak tuh, Bapak juga pernah denger”.
“Tapi pak
ngomong-ngomong, kalau macam saya yang perlu mendadak uang pinjeman begini, bagaimana
mekanismenya pak”.
“Ya seharusnya Mas
Arman, buat permohonan dulu, kemudian dari bendahara akan disediakan jumlah
uang yang diperlukan, selanjutnya Mas Arman menandatangani persetujuan pinjaman,
bigitu mekanismenya”.
“Tapi begini saja. Mas
Arman bawa aja dulu uang yang diperlukan pamanmu, kemudian besok pagi-pagi ke
bendahara mengajukan permohonannya, Namanya Ibu Dewi, bendahara koperasi di
bagian keuangan, dia orangnya baik kok, bilang saja sudah ada persetujuan dengan Pak Jahid
gitu, nanti saya juga telepon Ibu Dewi-nya”.
Pak Jahid memastikan dan menjajikan kepada Arman proses yang sangat mudah dan
tidak berbelit.
“Baik pak kalau gitu,…..
ngomong-ngomong barangkali kemalaman, saya…. mau pamit dulu pak”
Arman mengucapkan pamit sambil berdiri.
“Eh belum di dusuguhin
minum kok sudah mau pamit, …Ya sudahlah kalau gitu, Oh ya sebentar uangnya,
saya mau siapkan” Ujar Pak Jahid sambil masuk ke dalam
rumahnya.
“Nah ini Mas Arman,
uangnya. Jangan lupa ya RAT besok hadir, ajakin temen-temen yang lainnya untuk
memeriahkan acara RAT kita besok ya!, biar meriah. Dan dari laporan pengurus Koperasi
nantinya Mas Arman akan lebih tahu lagi kondisi koperasi kita. Undangan yang
lain juga nanti pada hadir, ada yang dari pensiunan, pegawai-pegawai PLN yang
dari pelosok-pelosok sana nanti juga pada datang”.
Demikian Pak Jahid tak henti-hentinya mempromosikan acara RAT yang akan
diselenggarakan dalam waktu dekat ini.
Kemudian selanjutnya
Arman keluar rumah Pak Jahid, dan pamit
pulang.
Pagi-pagi sebelum
berangkat ke kantor, Arman sengaja mampir dulu ke rumah Pak Akhmad pamannya. Supaya
dia jangan sampai bertemu dengan Juragan Sani sang rentenir brengsek
itu.
“Mang …Mang ini Arman”.
Didepan pintu rumah Pak Akhmad, seorang lelaki muda berbaju putih, mengetuk
pintu memanggil pamannya.
“Lho kok belum
brangkat kerja” Pak Akhmad kaget melihat Arman didepan
pintu rumahnya ketika dibuka.
“Iya Mang, saya kesini
dulu. Ini uang buat bantu Embah di kampung. Semalam saya berkunjung ke ketua
koperasi PLN, eh ternyata langsung dikasih pinjeman”.
“Berapa ini Nang” Pak Akhmad,
agak ragu kalau-kalau uang yang ada didalam amplop itu nggak cukup untuk
dikirimkan ke kampung, untuk membantu bibinya.
“Ya sesuai keperluan Embah
buat perbaiki dapur yang ambruk itu” Sambil
tersenyum manis Arman meyakinkan pamannya, bahwa masalah ini sudah selesai.
“Alhamdulillaah matur
kesuwun” Bagai tersiram hujan, ketika suasana
panas terik matahari yang menyengat, Pak Akhmad mengucapkan dengan penuh
syukur.
“Masuk dulu sini,
ngopi-ngopi dulu” Pak Akhmad sedikit basa-basi mengajak
keponakannya masuk rumah.
“Ah nggak usah Mang, saya langsung ke kantor aja lagi banyak
urusan”
“Ya sudah Nang, makasih
yaa” Senyum yang berkembang di bibir Pak Akhmad, seolah
memberikan kesan bangga kepada keponakannya Arman, yang menjadi pegawai di PLN.
“Sudah ya Mang, saya
pamit dulu, salam buat Bibi!”. Arman terburu-buru
hendak langsung ke kantor, karena ada beberapa urusan yang harus segera
diselesaikan.
Sepergiannya
Arman, mata Pak Akhmad berkaca-kaca karena haru. Keponakannya yang disangkanya
tidak bisa membantu, ternyata begitu antusias dan penuh semangat untuk membantu
keluarganya yang sedang mengalami kesulitan. Bahkan, tidak pernah dibicarakan
sepatah katapun, bagaimana pengembaliannya.
“Mudah-mudahan kamu
akan menjadi orang baik Nang”. Gumam Pak Akhmad
mengucapkan sebuah kalimat di dalam hati, yang tak akan pernah terdengar oleh
siapapun, tetapi akan terdengar oleh Allah yang Maha Perkasa.
Beberapa hari
kemudian Pak Akhmad, terima telepon dari bibinya, “Mad, terimakasih yaa, dapur bibi
disini sudah baik lagi, kapan mau main kesini, ajak sekalian si Arman sama
anaknya, …. Tuuut….tut….tut…..tuut…”. Demikian suara telepon dari
bibinya dikampung, dan rupanya pulsa teleponnya bibi habis.
The and - selesai

Tidak ada komentar:
Posting Komentar